Setahun Pemerintahan Hendy. Ternyata Durung Wayahe Keren

0
889

Ada 3 hal besar dan mendasar yang menjadi catatan xposfile dalam setahun kepemimpinan Bupati Hendy yang gencar menggaungkan Jember Kueren. Pertama tentang Proyek Multiyears, kedua tentang Kebijakan memPltkan semua pejabat & Pengundangan SOTK baru, serta yang ketiga tentang realisasi janji politik Pilkada 2020.

Berikut adalah bagian pertama dari tiga tulisan bersambung. Kali ini kami sajikan tulisan tentang proyek Multiyears. Yakni salah satu program prestisius Bupati Hendy Siswanto yang ingin menyulap infrastruktur Jember hanya dalam tempo 6 bulan. 

Gak tanggung-tanggung anggaran yang harus disiapkan demi terwujudnya mimpi besar itu, singkat cerita, ditengah euforia mayoritas anggota dewan yang sedang bermesraan dengan bupati baru, akhirnya Bupati bersama DPRD berhasil menandatangani Perda APBD 2021. 

Bupati baru ini terbukti berhasil mengusulkan anggaran fantastis untuk proyek pembangunan jalan, jembatan dan proyek penerangan jalan umum senilai 782 Miliar. Dan hebatnya, saat itu praktis tanpa ada perdebatan yang berarti. Usulan eksekutif tersebut langsung disetujui oleh 50 anggota DPRD hanya dalam tempo 6 minggu sejak bupati baru dilantik oleh Gubernur Jawa Timur pada 26 Februari 2021 lalu. Sebuah kejadian dan suasana yang hampir tidak pernah dirasakan oleh masyarakat Jember sepanjang 5 tahun era kepemimpinan bupati sebelumnya.

Masih jelas di ingatan publik, Bupati Jember Hendy Siswanto saat dikonfirmasi wartawan usai penandatanganan KUA PPAS pada 3 April Tahun 2021 mengatakan ;

”Kami akan melaksanakan proyek itu dan lambat laun seluruhnya akan melihat bahwa konsep multiyears itu adalah konsep yang bagus, karena pemerintah tidak perlu mengeluarkan biaya dan (akan) merangkul pihak ketiga untuk membiayai terlebih dahulu,” kata Hendy seperti dimuat di Jawapos.com terbitan 4 April 2021.

Publik memahami pernyataan bupati itu dengan logika sederhana, bahwa warga Jember sudah akan bisa menikmati terlebih dahulu hasil pembangunan jalan, jembatan dan penerangan jalan umum senilai 782 miliar meski saat itu Pemkab Jember dalam posisi tidak mampu membiayai proyek tersebut ditahun pertama Bupati Hendy menjabat. Ada pihak ketiga yang akan membantu membiayai proyek tersebut.

Fakta yang ada dilapangan ternyata tidak semulus yang diangankan. Hampir semuanya, terutama pelaksanaan proyek jalan yang menggunakan pola multiyears, ternyata justru masih baru mau akan dikerjakan di tahun 2022. Maka wajar saja kalau kemudian publik Jember kecewa. Sejak akhir 2021, mulai banyak muncul kekecewaan publik di berbagai media dan media sosial.

Lebih-lebih, sebelumnya dalam berbagai kesempatan saat kampanye maupun saat menjelang dilantik, Hendy Siswanto begitu pede untuk meyakinkan berbagai pihak, bahwa dirinya bisa menyelesaikan kerusakan infrastruktur peninggalan rezim sebelumnya hanya dalam tempo 6 bulan.

Seperti yang dirilis Harian Suara 21 Desember 2020, sebuah media online yang diketahui adalah media yang dikelola oleh keluarga Hendy Siswanto seperti link berikut ; https://www.hariansuara.com/news/politik/21542/belum-dilantik-bupati-wabup-sudah-siap-rentangkan-jalan-di-seluruh-jember-dalam-6-bulan

Bupati Haji Hendy bahkan telah menyatakan kepada Gus Firjaun seperti pada  perbincangan keduanya pada 16 Desember (2020) lalu sekira pukul 08.56. Simak:

Bupati Hendy: “Gus, saya ingin segera membenahi infrastruktur dan juga penerangan jalan di seluruh Kabupaten Jember dan saya ingin ini kelar dalam waktu 6 bulan,” ujar Bupati Hendy, yang disambut dengan kaget oleh Wakil Bupati Gus Firjaun,

“Kok cepat, Pak Haji… Bisa ya ditempuh dalam waktu 6 bulan?”

Bupati Hendy: “Sangat bisa, Gus. Itu memang kerjaan saya. Gus, jenengan yang berdoa biar lancar kita dalam membenahi Jember dengan cepat.”

Bahwa ternyata sampai dengan setahun setelah dilantik, yakni sampai diakhir bulan Februari 2022, ternyata warga Jember belum juga bisa benar-benar menikmati jalan mulus seperti yang dijanjikan. Apapun alasan yang disampaikan tentang penyebab molornya penyelesaian pekerjaan, tidak akan dengan mudah membuat publik melupakan janji yang telah terlanjur diucapkan oleh Hendy Siswanto baik saat masih sebagai Calon Bupati maupun sebagai Bupati.

Penggunaan pola Multiyears atau Tahun Jamak itu sendiri sejak awal pembahasan KUA PPAS di ruang DPRD sampai dengan hari ini, sebenarnya masih saja menuai kontroversi dan menjadi polemik berkepanjangan. Dalam rapat paripurna setahun yang lalu, Fraksi PDI Perjuangan dengan tegas menolak sistem pembangunan tahun jamak atau multiyears sebesar Rp 782 miliar yang ada dalam dokumen KUA PPAS. Namun, karena tidak ingin dinilai menghambat APBD 2021, sehingga Fraksi PDI Perjuangan saat itu tetap membubuhkan tanda tangan untuk persetujuan KUA PPAS, namun bukan untuk persetujuan pembangunan tahun jamak.

Untuk memahami apa dan bagaimana sebenarnya pola anggaran multiyears atau tahun jamak, kita bisa mencontohkan kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Pola penganggaran dengan Multiyears atau tahun jamak itu bisa dianalogikan seperti ketika ada seseorang yang ingin menikmati dan memiliki sebuah handphone seharga 10juta, namun uang yang dimiliki hanya 4juta. 

Bagaimana caranya menikmati handphone berkelas ditengah isi dompetnya sedang cupet ? Solusinya adalah dengan cara angsuran. Yaa, dengan cara kredit, maka cukup dengan bayar uang muka 4juta, saat itu juga sudah bisa langsung pegang HP. 

Namun, semua pasti ada resiko dan konsekuensi. Dengan cara seperti ini, tidak mungkin penjual mau dibayar hanya dengan nilai 10juta namun diangsur. Pastinya, dengan perhitungan bunga dan seterusnya, maka wajar saja kalau kemudian harga yang harus dibayar melebihi harga kontan. 

Taruhlah bayarnya bisa jadi total 11juta. Namun pembeli dan penjual pastinya sama-sama puas. Karena pembeli sudah bisa menggunakan handphonenya meski masih punya hutang 7 juta. Sebaliknya, sang penjual juga akan merasa puas karena ada selisih keuntungan 1juta dari transaksi seperti itu.

Nah, kembali ke soal proyek pembangunan jalan dan PJU yang belum bisa dinikmati oleh semua warga Jember sampai dengan ahir bulan Februari 2022, padahal Pemkab sudah mengeluarkan sejumlah anggaran di tahun 2021, lalu siapa yang dirugikan dan siapa yang diuntungkan ? Mana pihak ketiga yang katanya akan membantu pembiayaan proyek Kueren tersebut ?

Yang pasti, warga Jember masih harus pandai mengelola pola tidurnya agar dalam tidurnya nanti bisa bermimpi menikmati jalan mulus dan terang benderang seperti yang dijanjikan Bupati Hendy Siswanto. 

Walhasil, wajarlah kalau kemudian banyak warga Jember yang kecewa lalu spontan nyeletuk “Ternyata Durung Wayahe Keren”.

Bersambung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.