Nyatakan Kebenaran Dimanapun Berada

0
273

Dirgahayu Negeriku, Indonesia Maju

XposeFile – Jember, Agustus 2020.

Memperingati hari ulang tahun berdirinya bangsa, memperingati hari ulang tahun Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, perlu kiranya kita mengingat kembali tentang apa yang sudah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita. Bahwa sampai dengan hari ini kita semua masih bisa menikmati kemerdekaan sebagai anak bangsa, hal itu tak bisa dilepaskan dari prinsip-prinsip dan pemikiran beliau-beliau. Jas Merah, Jangan Lupakan Sejarah, demikian kata Bung Karno.

Dalam konteks Jember, akhir-akhir ini muncul pro-kontra tentang kepatutan sosok dengan “label ulama” yang melakukan aksi (demo) untuk mengkritisi jalannya pemerintahan Kabupaten Jember dibawah kepemimpinan Faida. Aksi-aksi yang sering dilakukan oleh Gus Saif dalam beberapa tahun terakhir dan yang masih segar dalam ingatan, adalah aksi yang diikuti ribuan masa yang dipimpin oleh Gus Baiquni Purnomo untuk mendukung DPRD menjalankan Hak Konstitusinya yakni Hak Menyatakan Pendapat untuk Memakzulkan Bupati Faida.

Banyak pertanyaan, cibiran dan bahkan cemo’ohan yang ditujukan kepada Gus Saif dan Gus Baiqun atas apa yang beliau lakukan sebagai bagian dari anak bangsa. Hal ini tak lepas dari pemahaman (salah kaprah) yang selama ini menjadi pegangan banyak orang, bahwa ulama/kiayi itu pantasnya cukup beraktifitas di pondok. Ngurusi santri. Itu saja.

Berangkat dari pro kontra tersebut, penulis berupaya untuk mencari dasar sesuai dengan ajaran Rasulullah sekaligus juga mencoba membaca untuk menggali dan mengetahui pikiran atau prinsip-prinsip yang dijalankan oleh para leluhur-leluhur sebagai bagian dari anak bangsa dalam menyikapi kebijakan pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya dalam sistem pemerintaan di NKRI dizamannya.

Alhasil, penulis berhasil mendapatkan rekaman pidato dari KH.Achmad Shiddiq yang membahas tentang persoalan kebangsaan. Pidato dari seorang tokoh Ulama asli dari Jember yang kiprahnya secara nasional sudah tak lagi diragukan.

Satu kalimat dari pidato KH.Achmad Siddiq yang menarik untuk menjadi pegangan bagi penulis menjalani kehidupan berbangsa di NKRI, lebih-lebih saat ini seluruh bangsa Indonesia sedang merayakan peringatan HUT RI Ke 75, “Kami berikror .. ber-baiat kepada Nabi untuk berani menyatakan kebenaran dimanapun kami berada, nah ini namanya amar maruf nahi munkar… sekalipun tak ngamok.. kewajiban amar maruf nahi munkar tetep… harus dijaga…
لا نخاف في الله لومة لائم   Kami tidak gentar untuk di cela di cerca, yaa kalau perlu diludahi oleh massa, jatuh wibawa kita, tapi demi amar maruf nahi munkar… dengan cara yang baik”

KH. Achmad Siddiq kala itu, ketika memberikan uraian dalam meng-aplikasi-kan dua konsepsi yaitu Pancasila dan Agama dalam menyikapi dua insiden yang terjadi di Jakarta yakni peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984 dan peristiwa ledakan bom di BCA Gajah Mada Jakarta pada 4 Oktober 1984. Penulis meyakini, pidato tersebut bisa menjadi pegangan bagi kita sebagai muslim, sebagai santri dan sekaligus sebagai bagian dari anak bangsa untuk mengambil sikap dan menyikapi keberadaan kepemimpinan pemerintahan.

Pidato KH. Achmad Siddiq tersebut disampaikan didepan undangan yang terdiri dari para  tokoh, ulama dan pejabat baik yang berada di Legislatif, Ekskutif, TNI, POLRI dan para pimpinan Partai.

Berikut adalah Transkip Pidato KH. Achmad Siddiq tahun 1984 di depan alim ulama dan umaro di Jember.

Ini yang akan saya kutipken, beberapa petunjuk dari Rasulullah saw. Ini hadist shohih, dari imam muslim : إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاثًا، Sesungguhnya Allah meridloi, merelai menyukai untukmu … tiga (hal), أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا Supaya kamu  menyembah, secara manunggal kepada Allah, jangan menyekutukan lain-lain, ini satu,

وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا Pegang teguhlah ajaran Allah.. secara keseluruhan, jangan berpecah belah dengan macam-macam ide-idemu sendiri, dengan macam-macam ideologimu sendiri, dengan pikiran-pikiranmu, tapi carilah pegangan itu….bi hablillah dengan ajaran Allah.
وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ وَلَّى اللَّهُ أَمْرَكُمْ Supaya kamu memberikan nasehat, pikiran pikiran dan pertimbangan-pertimbangan yang sehat kepada pejabat-pejabat negara. Ini rowahu muslim

Ada hadits yang serupa wa qola rosulullah saw  ثلاث لا يغل عليهن قلب مسلم

Ada tiga yang hatinya orang Islam tidak merasa dengki, tidak merasa keberatan, ini pasti akan diterima oleh orang yang mengaku dirinya muslim, apa itu?إخلاص العمل لله  Ikhlas amal melaksanakan amal betul-betul karena Allah, ikhlas tanpa ada udang dibalik batu, lah ini istilah anak muda… tampaknya begini2, ongguna .. maksudnya begitu….lah, ini apa? Ini kadang-kadang lempar batu sembunyi tangan.

ومناصحة ولاة الأمور  Memberi nasehat kepada pemerintah.
ولزوم جماعتهم، فإن الدعوة تحيط من ورائهم   Kamu harus bersama2 dengan mayoritas umat Islam, yang memegang kebenaran dan mempunyai tokoh-tokoh ahli, yang tahu kebenaran..  alaikum bisaadil adzom ma’alhaqqi wa ahlih, aw kama qol….

Untuk ini  … saya ambil yang ini ….munashotu wulatil amri….Memberi nasehat kepada pemerintah, dan  pejabat.

Disamping DPR, disamping Parpol , di samping Golkar, …apa sudah habis ? oh ndak…  masih ada… ada… apa itu?
Ini yang penting, yang saya minta dicatat,,,,ya maaf ini, kalau boleh saya memohon… agar dicatat oleh kedua duanya, baik yang duduk di pimpinan maupun yang duduk di majlis…

Yaitu melalui forum-forum komunikasi. Adakanlah forum- forum komunikasi, pertemuan-pertemuan terbatas,  dimana antara pemimpin-pemimpin dan yang dipimpin, antara pemerintah dan rakyat, ada komunikasi, ada hubungan langsung. Jangan teriak di alun2, lain…., atau di pasar….nanti ribut….Tap kalau kita berhadap-hadapan, bertatap muka…kemukakan… Apa? Ini pak, kami begini begini…..kor on-laon, adek se ngeding… yee tak akan ada yg keberatan…. Kalau atoat, ooooiii…Nanti dulu itu. Ini satu.

Yaitu lewat personal aproach ….aproach pribadi, jadi maaf,  bukan saya mengggurui….
Pejabat-pejabat .. pemimpin-pemimpin juga,  supaya mengadakan aproach-aproach pribadi, menemui fulan, menemui ini..  wek duwe’en beih….
Assalaamualaaikum….. umpamanya ini… (olle biddeng, olle rokok , ya pas kebetulan .. pas nyambelih ajem) Omong2 disitu secara santai… “ ini…..ya apa ini?? Apa… ada apa pak ? Begini…Oh itu…pak, itu sebabnya begini pak… rakyat pas keberatan pak… ! Loh, kenapa keberataan? Iya.. karna begini, begitu, begini begitu….Lah sudah…. itu lebih dari DPR itu..

Ada lagi, munashohah..munashohah, memberi nasehat pertimbangan yang sehat kepada pejabat-pejabat pemerintah, yaitu melalui forum2 ilmiyah. Nah ini tugasnya bongsone dokterandus dokterandus, mengadakan seminar-seminar…. Diskusi- diskusi. Yaah..yang isinya mempersoalkan masalah sosial, masalah-masalah politik, masalah- masalah ekonomi, kalau perlu adakan kritik-kritik, tanya jawab. Jangan cuman kritik tok, ini kalau sarjana…dusnodusin….itu, sarjana cuman iso ngilokno tapi tidak bisa memberikan konsepsi jalan keluar, harus tanggung jawab. Harus…! diskusi…! Ini bobrok, ini brengsek, ini dak bener,,! Lah yang bener? Tak taoh…. Beee….bukan sarjana kalu gitu…harus bisa…..begini pak…jalan yang harus ditempuh supaya stabilitas nasional ini bener2 sehat…dan dinamis seperti GBHN tadi…begini pak… ini.. ini…

Saya kira kalau caranya dalam batas-batas yang baik, saya kira tdk akan di tolak, saya kira loh ini….
Saya minta nanti Danramil mengomentari  .. ngoreksi …akan marah ndak nantinya…

Para hadirin… maka ini hadist yang pertama ,, rowahu muslim…yang kedua tadi, yang hampir sama… itu rowahu ahlu sunan

Dengan dan dalam pengertian inilah, kita menyimak sebuah sabda……
Ini saya masih akan menutukken…mohon kesabarannya, ya…sebab ini saya anggap penting, ini hadits muttafaqun alaih, jadi Bukhori dan Muslim bukan saja matannya yang sama, juga sanadnya sama… betul-betul  terjamin kesohihan dari hadits ini, yaitu ….بايعنا رسول الله ﷺ Kami melakukaan baiat kepada Nabi Saw, yang coro sekarang itu ikror…dihadapan nabi… Apa ikror ?

Satu…
على السمع والطاعة في العسر واليسر (اي على ولاة الامر ) Akan mendengarkan dan taat kepada pemerintah…Disiplin Nasional.
Baik fil usri… في العسرdi dalam kesulitan, Wal yusri, واليسر atau dalam keadaan kemudahan Wal mansyathi… والمنشط dalam keadaan trengginas,  segar Wal makroh والمكره  atau  prihatin.. tapi tetap disiplin nasional.

Dua….Ini gambaran yang paling jelek
.وعلى أثرة علينا dan dalam keadaan perasaan yang kurang sempurna, katakanlah … keadaan sudah parah,
وعلى أن لا ننازع الأمر أهله dan kami mengadakan ikrar dihadapan Nabi…

Kami tidak akan merampas atau merebut kekuasaan dari pemerintah, kecuali bila kamu melihat dengan nyata
إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله تعالى فيه برهان،
kekufuran dan kemaksiataan yang menyolok dan membayahakan keamanan dan ke-imanan …toh masih dilakukan oleh pemerintah…

Nah, itu….umpama pemerintah…melarang orang sembahyang…..melarang jumatan….yaa apa boleh buat sudah… ini batas sudah……Andaikata PKI berkuasa disini, lalu dia mengatakan robek semua alqur an …!
Wah, nanti dulu pak, apakah disini masih berlaku…? atiulloh wa ati’urrosul wa ulil amri minkum ? ya nanti dulu. Kalau pemerintah berani memerintahkan kepada rakyat untuk kafir, untuk melakukan maksiat…yang membahayakan keamanan dan keimanan…

Lah ini,,, lah ini, soal lain ini…ada lagi …dalam kondisi ini…apakah ini akan biarkan,…keadaan ini ? Nah disini… kelanjutan hadits tadi…
وعلى أن نقول بالحق أينما كنا، لا نخاف في الله لومة لائم ،متفق عليه.

Kami berikror .. ber-baiat kepada nabi untuk berani menyatakan kebenaran dimanapun kami berada..
Nah ini namanya amar maruf nahi munkar… sekalipun tak ngamok.. kewajiban amar maruf nahi munkar tetep… harus dijaga
لا نخاف في الله لومة لائم  

Kami tidak gentar untuk di cela di cerca, yaa kalau perlu diludahi oleh massa, jatuh wibawa kita, tapi demi amar maruf nahi munkar… dengan cara yang baik….

Ini saya lewatkan, ini saya titipkan pada ulama2, pada pengasuh2 pesantren..
Kalau ini keliru.. ya maaf…gedor  pintu saya… kapan saja ! Ahmad Siddiq… keliru, bukan hadits kok dibacakan hadits, nah nanti saya bisa nggak saya carikan kitabnya untuk tunjukkan kitabnya nanti…

Ada sebuah hadits lagi…. : إنه يُسْتَعمَلُ عليكم أمراء Ini akan diangkat  pejabat2, yang diangkat oleh pemerintah oleh negara, Fatarifun, فتعرفون nah kamu nilai ada yang baik sesuai dengan peraturan, sesuai dengan etika moral agama dan sebagainya.. Wa tunkirun… وتنكرون Tapi, ada pula yang menyalahi, yang gak cocok..

Nah bagaimana sikap kita…Faman kariha… فمن كره siapa yang tidak merelakan didalam hati…faqod bari.. فقد برئ maka dia sudah tidak, sudah bebas dari kewajiban agamis
ومن أنكر Siapa yang berani menyatakan inkar, ( tadi.. takut yang tadi itu, doh yaopo.. cumak atinee seng ngenes)…. Berontak dalam hati… Nah itu faqod bari’a, tapi kalau dia mampu memberikan inkar, faqod salima… فقد سلم  …. (dia selamat dari dosa)..

Kalau dia… apa lewat …, apa lewat Golkar…apa lewat PPP,  apa lewat PDI, lewat DPR, lewat personil  aproach, forum komunikasi, terus.. diskusi-diskusi, seminar- seminar, konsepsi- konsepsi, bisa….. maka faqod salima…Walakin… ولكن  katanya Nabi…

Ini yg tidak boleh…man rodia wa taba’a… من رضي وتابع Nah… hatinya menyerah… yoo.. yaopo  maneh wes..La jemannah sekarang…  lah itu……Rela dia….hatinya Wa taaba’a, dan dia mengikuti apa adanya…Nah ini … Ini yg tidak di perkenankan oleh Nabi..

Tidak boleh seorang Islam, bersifat penonton….La dinalah ra.. kor engkok tak  rok noro’ laa. Bee… beremmah sampiyan,,, tak olle…  tidak boleeh  bersikap apatis, masa bodoh…
Siah, jek  engkok tak e bejer… wah…Taambe kalero itu….polanah tak ebejer tak rok noro’ah…Bee, tambah itu………
Apalagi kalau menyandang nama ulama…. Mashobih al ard … koddu deddi lampu…

Jadi, inilah haditsnya…jadi setelah shahabat mendengarkan itu
.قالوا: يا رسول الله، ألا نقاتلهم؟
Ini tidak saya baca leterleig,…
Ya Rasulallah, kalau keadaan seberengsek seperti engkau andaikan itu, Apakah boleh kita lawan mereka dengan kekerasan ? bolehkah, kami-kami ini melawan hukum ?
قال: لا، ما أقاموا فيكم الصلاة

Dijawab oleh Nabi tegass, Laa ,,,Tidak,,, Jangan !! Selagi mereka menegakkan sembahyang di antara kamu… Ini hadits , rowahu muslim.

Jadi … para haddirin, maka kesimpulannya, amar makruf nahi munkar itu beban, tidak boleh tawar menawar lagi.
“Dakwah amar maruf nahi munkar adalah kewajiban agama, diperintah, tidak diperintah oleh pengurus, atau tidak pakai pengurus, setiap muslim harus  berjiwa dan bersemangat memperhatikan keadaan, ikut memperhatikan, Ikut serta menangani dan membenahi keadaan di sekitarnya”

Cuma ada sebuah hadits,  yang saya lupa itu hadits rowahu apa
مَنْ أَمَرَ بِمَعْرُوفٍ فَلْيَكُنْ أَمْرُهُ بِمَعْرُوفٍ

Jadi tolong kalau ada kiyai, Siapa yg memerintahkan dengan kebaikan.. amar maruf, hendaklah cara memerintahkannya dengan cara baik-baik. Ini sebuah sabda. Dengan petunjuk-petunjuk Rosulullah saw ini semua, marilah kita galang,  kerja sama antara pimpinan-pimpinan formal dan pimpinan- pimpinan informal.

Untuk di Indonesia, tegasnya antara umaro dan ulama.. umaro ya pejabat-pejabat… yang informal ya ini… hadirin sekarang ini, ulama, pemangku pondok pesantren atau tidak pemangku. Dan kerjasama itu juga digalang antara pimpinan- pimpinan  itu dengan rakyatnya, dengan umatnya, yang menjadi tanggung jawabnya.

Seperti yang di-isyarahkan oleh Allah dalam surat Annisa, (nanti bisa sampean cocokkan), ayat 58 dan ayat 59. Ini dua ayat ini jangan dibaca separoh, harus dibaca satu nafas… dak boleh dipisah, karna ini satu lingkaran, satu paket. Yang satu ditujukan pada pemimpin, ayat berikutnya ditujukan kepada rakyat,
yaitu ; إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

Ini ditujukan kepada pemimpin, formal maupun informal, hendaklah kamu menyampaikan, meneruskan amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, kepada  jabatanmu, amanat-amanat itu harus kamu serahkan kepada yang berhak…

Ini satuu,
 وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
Kalau kamu memutuskan satu keputusan, hendaklah dengan adil…. Ini perintahnya…
Nah kaalau ayat ini sdh selesai, terusken… ayat 59,
yaitu,,,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ

Hai orang Islam… taatilah Allah, taatilah Rosul, ta’atilah pemerintah, taatilah ulama. Wa Ulil amri minkum itu pimpinan, baik yang forml ataupun informal termasuk ulil amri,
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ Kalau kamu berselisih, antara pemimpin dan rakyat, kembalikanlah kepada ajaran Allah  dan Rosul-Nya…
إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا Kalau benar-benar kamu beriman kepada hari akhir… Sekian uraian dari saya.

Akhirnya, penulis tidak ingin menyimpulkan apapun bagi pembaca dari transkrip pidato KH.Achmad Siddiq ini, penulis hanya berharap tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi kita dalam merayakan peringatan HUT RI ke 75 tahun 2020.

Dirgahayu Republik Indonesia. Jayalah Negeriku. Indonesia Maju.

Penulis :
Sholahudin
Direktur PT. Radio Ashria

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.