Berkhayal Jember Punya Kompleks Makam Seperti Sandiego Hill

0
342

Nyekar ke makam leluhur keluarga adalah salah satu agenda mayoritas warga di setiap hari raya Iedul Fitri. Nyekar atau ziarah kubur, selain menjalankan anjuran agama, hal itu juga sudah menjadi tradisi yang telah berlangsung turun temurun sejak nenek moyang kita dulu.

Ramainya peziarah diberbagai makam pada Iedul Fitri kali ini membuatku teringat dengan kesulitan dan kendala yang kualami saat menjadi Ketua Rukun Kematian di RW 36 Kelurahan Jember Kidul tentang minimnya lahan pemakaman umum Tumpeng. Sebuah lahan pemakaman Umum di jalan Melati (dahulu Patimura) yang menjadi tempat pemakaman bagi warga di lingkunganku dan lingkungan-lingkungan lainnya di sisi barat pusat kota Jember.

Ketika itu (sekitar 25an tahun lalu), kami mendapat surat dari Lurah Jember Kidul yang berisi tentang larangan penggunaan makam TPU Tumpeng. Alhasil, dengan larangan tersebut, maka sebagai Ketua Kematian aku umumkan kepada warga bahwa warga tidak lagi bisa meminta kepada Pengurus Rukun Kematian untuk memakamkan anggota keluarganya di TPU Tumpeng.

Kalau ada warga yang ngotot agar keluarganya dimakamkan di TPU Tumpeng, kami membolehkannya dengan syarat, liang lahat yang baru hanya boleh digali diatas makam suami/istri/orang tua dari warga yang wafat. Dengan kata lain, boleh dimakamkan di Tumpeng, namun harus ditumpuk. Selain itu, semuanya harus mau dimakamkan di TPU Cukil.

Saat itu, menurutku TPU Cukil masih sangat luas dan masih memungkinkan untuk dilakukan perluasan. Dengan itu kemudian bersama dengan pengurus Kematian lainnya, kami menggagas untuk membeli lahan sawah di sebelah TPU Cukil untuk areal pemakaman khusus warga. Namun, gagasan itu gagal terlaksana.

Saat itu, aku belum mengenal dunia politik, belum kenal satupun anggota dewan, belum paham bahwa sebenarnya kebutuhan tentang lahan pemakaman seperti itu harusnya menjadi ranahnya Pemerintah Daerah untuk memenuhinya.

Faktanya, dari rezim ke rezim yang memimpin Jember sepanjang usiaku menjelang 60 tahun, tidak pernah aku mendengar Pemerintah Daerah membuka lahan makam umum baru. Kalaupun ada, itu hanya dalam bentuk regulasi bagi para pengembang agar menyediakan lahan pemakaman. Dan parahnya, regulasi itupun sepertinya hanya untuk disiasati oleh para pengembang dengan meloby pengurus/pemilik lahan makam-makam yang sudah ada sebelumnya didekat perumahan baru yang dibangun mereka.

Lebaran kali ini, akhirnya membuatku tahu bahwa ternyata TPU Cukilpun sudah hampir penuh. Sisi barat, selatan dan utara sudah penuh dengan perumahan. Kalaupun akan ada perluasan, hanya bisa kearah sisi timur, itupun terbatas dan belum tentu pemilik sawah mau menjualnya.

TPU diwilayah perkotaan, dipastikan kondisinya tak jauh beda dengan TPU Cukil. Mulai TPU Kebonsari, Wetan Kantor dan TPU Patrang semuanya bisa jadi hanya menyisakan liang lahat untuk kebutuhan beberapa tahun mendatang. Sampai kapan ?

Sebagai muslim, terpaksa aku harus iri dengan saudara kita dari etnis Tionghoa. Meski minoritas, mereka mempunyai cukup lahan dan fasilitasnya bagi komunitasnya yang mati. Dan yang paling membuatku cemburu, mereka memiliki tim yang lengkap sekaligus dengan mobil jenazahnya. Padahal sebenarnya, sebagai mayoritas, seharusnya kita bisa memiliki fasilitas yang lebih wah dari mereka.

Aku kemudian berkhayal, sebelum ajalku tiba nanti, kotaku Jember bisa punya lahan makam tanpa kesan angker tetapi justru seperti taman wisata yang layak menjadi tujuan rekreasi keluarga. Konsepnya seperti Sandiego Hill di Krawang Jawa Barat. Ada yang berbayar (vip) dan ada yang free untuk orang kebanyakan kita. Dilahan yang baru, arealnya bisa diatur sedemikian rupa agar semua warga Jember bisa dimakamkan disana. Ada area muslim, sekaligus area khusus bagi non muslim. Seperti konsep yang didesign oleh Belanda di kompleks makam Cukil yang sebelumnya ada makam untuk muslim, Belanda, Cina dan Kristen sebelum berubah menjadi pasar Gebang.

Dengan makam yang tertata, bersih dan indah, maka makam itu bisa menjadi semacam objek wisata baru bagi kita. Juga bisa menjadikan kita bisa lebih sering takziah ke makam leluhur.

Dengan manajemen yang profesional, maka nantinya kita bisa punya mobil jenazah dan tim kematian yang lengkap mulai dengan penggali kubur, tukang talqin, yang memandikan, mengkafani sekaligus mensholati jenazah. Lengkap untuk melayani warga Jember. Itupun hanya sebagai backup atau dikhususkan bagi warga yang wafat di lingkungan yang belum memiliki rukun kematian atau bagi siapapun dan dimanapun warga Jember yang membutuhkan.

Lahannya, bisa diploting di lahan Pemkab yang rencananya akan digunakan sebagai pusat pemerintahan. Pesan morilnya bagi pejabat pemerintah adalah, semuanya tanpa terkecuali akan berakhir disitu. Di Pusat Pemakaman Warga Jember.

Dari sisi anggaran, menurutku tidak ada yang sulit. Karena jelas ini kebutuhan dasar sebagai manusia. Siapapun dia, apapun suku dan agamanya, kaya atau miskin, semuanya pasti berakhir di kuburan. Kuncinya satu. Kalau Bupati mau dan didukung oleh DPRD, semuanya pasti selesai.

Dan akhirnya, proyek ini akan bermanfaat sepanjang masa. InshaAllah sampai akhir zaman nanti. Semoga saja Bupati Hendy Siswanto dan Wakil Bupati Gus Firjaun berkesempatan membaca tulisan ini untuk kemudian terketuk hatinya menjalankan proyek ini. Syukur-syukur Ketua DPRD Itqon Syauqi dan kawan kawan dewan lainnya juga sempat membaca tulisan ini.

Kalau ini benar dijalankan, maka aku sendiri akan bilang :
“Ojok maneh urusan infrastruktur gawe wong urip, kebutuhane wong mati sekalipun, yo diurusi karo Bupati saiki”

Dan, andai aku nanti mati saat proyek itu sudah terrealisir, maka aku akan mencabut wasiatku kepada keluargaku : “Mayatku jangan dikubur jadi satu dengan kuburan Bapak & Ibuku di Tumpeng, Kuburkan saja jazadku di TPU yang baru”

Oleh : Kustiono Musri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.