Ahli Maksiat Menilai “Orang Baik” Dengan Penuh Rasa Cinta, Sebaliknya “Orang Baik” Memandang Ahli Maksiat Dengan Kebencian

0
765

Disebuah video acara talkshow Kick Andi yang beredar melalui pesan WA Group, tidak jelas kapan kejadiannya, Pengasuh Pondok pesantren Ora Aji (Not Value / Tidak Bernilai) Gus Miftah menyampaikan pesan moral yang luar biasa bernilai, atau luar biasa ‘aji’ bagi orang-orang yang mendapatkan hidayah tentunya.

Menjawab pertanyaan Andi F Noya tentang arti nama Ponpesnya, Gus Miftah menjawabnya dengan enteng. “Karena bagi saya, manusia itu hina dihadapan Allah. Rendah “ ujarnya.

Andi pun terdiam mendengar jawaban Gus Miftah. Entah memang Andi sedang memberi kesempatan kepada Gus Miftah untuk menjelaskan atau Andi sedang terkaget-kaget dengan jawaban itu, Gus Miftahpun langsung saja melanjutkan ;

“Makanya saya mencoba memposisikan saya seperti itu. Maka ketika ada orang membully saya macem-macem, saya sama sekali gak kepikiran. Yaa katakalah kita not value (tidak bernilai-red). Sudah saya santai” lanjutnya.

Gus Miftah mengaku sering kali mengatakan, “ Orang ‘Baik’ itu egois. Karena memandang orang ‘maksiat’ dengan kacamata KEBENCIAN. Sementara ‘ahli maksiat’ itu justru memandang orang ‘baik’ itu dengan kasih sayang ” katanya.

Gus Miftah kemudian menceritakan kejadian yang pernah dialaminya, ketika suatu saat ia sedang duduk di cafe bersama perempuan pemandu karaoke, berikutnya ada rombongan pengajian lewat . Saat itulah Gus Miftah mengaku kaget dengan kalimat yang terucap spontan dari mulut perempuan-perempuan itu,

Saya ngiri dengan mereka loh Gus, malam-malam begini kita mabuk pegang botol, mereka datang ke tempat pengajian ” katanya sambil meyakinkan Andi F Noya, bahkan ada yang meneteskan air mata haru.

“ Hwaduh ” kisah Gus Miftah kaget. Betapa tidak, perempuan-perempuan itu, sebagai manusia yang secara kasat mata sedang melakukan perbuatan maksiat, tetapi justru bathinnya sedang menangisi perbuatan maksiatnya sendiri. Mereka pastinya merasa dan tahu betul, bahwa mereka sedang melakukan perbuatan maksiat. Mereka sedih ketika melihat ada orang-orang yang diberi kesempatan dan kemudahan oleh Tuhannya untuk berjalan menuju Tuhannya dengan melakukan pengajian, namun disaat yang sama, mereka malah sedang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nurani dan bathin mereka sendiri.

Sementara suatu saat saya menemani beberapa temen yang ‘baik’. Yang sok suci lah” sambung Gus Miftah melanjutkan kisahnya.

“ Begitu lewat depan café, melihat mbak-mbak yang menggunakan pakaian seksi, mereka mengatakan apa ? “ tanya Gus Miftah. Tanpa memberi kesempatan Andi menjawabnya, iapun langsung menyambungnya.

Dasaar ahli maksiat, malam-malam begini malah penuh dengan kemaksiatan ” tiru Gus Miftah menirukan kalimat yang keluar dari orang-orang ‘baik’ tadi.

Yang ahli maksiat memandang “Orang Baik” dengan penuh rasa cinta, yang dianggap ‘Baik’ memandang ahli maksiat dengan penuh kebencian “ tegas Gus Miftah menyimpulkan 2 kisahnya.

Sebuah realitas yang disadari atau tidak, diakui atau tidak, sering kali kita temui, bahkan sering kita alami sendiri. Dan Gus Miftahpun melanjutkan, ia mengaku sering kali menyampaikan kepada mereka para pelaku maksiat ;

” Pada akhirnya nanti, surga nanti akan ditempati oleh ahli maksiat yang bertobat, bukan oleh orang yang sok suci namun akhirnya tersesat ” ujarnya menyimpulkan kejadian diakherat nanti.

Lebih baik ahli maksiat yang khawatir dengan kemaksiatan, daripada orang yang banyak amalannya tapi sombong dengan amalannya” pungkasnya

Dari berbagai sumber, diketahui Pondok Pesantren (Ponpes) Ora Aji berada di Dusun Tundan, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ponpes Ora Aji, didirikan dan diasuh sendiri oleh oleh KH Miftah Maulana Habiburrahman yang akrab disapa Gus Miftah, memiliki 180 santri, terdiri atas 150 santri putra dan 30 santri putri.

Para santri ini berasal dari seluruh Indonesia, kebanyakan mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta dan sebagian lagi adalah para penyandang masalah sosial seperti mantan preman, mantan narapidana, mantan pegawai salon plus dan mantan pegawai tempat hiburan malam serta kaum marginal lainnya.

Mereka menempati ruangan/gedung di belakang Masjid yang diberi nama yang terdengar aneh. Masjid Al-Mbejaji.

“Saya tidak pernah membedakan dalam menerima santri, siapa saja boleh masuk ke Ponpes Ora Aji dan tidak dipungut biaya alias gratis,” tuturnya.

Ponpes Ora Aji secara umum sama dengan pesantren tradisional lain, yaitu mengajarkan kitab kuning bagi santrinya. Bedanya dengan ponpes lain, disana mengajarkan pendidikan keterampilan bagi santri sehingga kurikulumnya merupakan perpaduan antara salafi dan kompetensi.

Kitab-kitab salafi banyak diajarkan oleh beberapa pendamping. Khusus untuk ilmu akhlak dan budi pekerti diajarkan secara langsung oleh Gus Miftah karena dua hal ini menjadi karakter utama santri pondok.

Pewarta : Kustiono Musri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.